SEBUAH RENUNGAN

Oleh : AzwarAwanta

Kehidupan hanyalah sebuah episode yang berputar berulang. Episode yang tidak kekal,  sebuah episode yang pasti akan digantikan dengan episode lain.

Ketika diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini oleh Sang Maha Pencipta apa yang akan dilakukan? Sang Maha Berkehendak telah menyempurnakan dengan Pendengaran, Penglihatan dan Akal. Apakah hanya sekedar menjalankan kehidupan dengan bernapas setiap hari,  kentut, buang air, makan, tidur, kerja, kawin, punya rumah, punya anak, tua, meninggal, selesai…?

Atau sebagai Mahluk ada pesan khusus dari Sang Pencipta Tuhan Alam Semesta Raya bahwa ada MISI tertentu untuk dibawa pada kehidupan ini? Mari merenung sejenak dari  fakta yang terjadi :

Baca lebih lanjut

TAHUN 2020

Suatu hari seorang kawan bertanya kepada saya tentang angka tahun 2020 pada awal bulan Januari 2020 yang lalu. Saya jelaskan : Angka 2 (dua) adalah angka genap menunjukkan sebuah keseimbangan, stabil dan kuat. Angka 0 (nol) adalah netral tak terbatas, sebuah lingkaran (bulat). Angka 2 dan 0 atau 20, dan itu berulang angka 20 lagi atau 2020.

89365534_10207128028276863_3110270304782385152_o

Baca lebih lanjut

KISAH SEBATANG POHON ARA

KISAH SEBATANG POHON ARA
Oleh : Azwar Awanta
Adalah sebatang pohon ara, pohon yang kuat berdaun lebat. Banyak burung dan serangga hinggap sebagai tempat persinggahan. Banyak yang terpesona dengan kerindangannya. Batangnya besar, daun yang hijau dengan lembar yang lebar. Alangkah indahnya pohon itu berdiri tegak bak pangeran yang dikelilingi bidadari – bidadari benalu yang terbaring bergayut manja tonjolan-tonjolan akar-akarnya. Lama berselang, pohon ara  tambah besar dan rindang.
Adalah seekor merpati, setiap hari pejantan itu terbang berkeliling mengitari pohon ara, Dia berharap  suatu keajaiban yang terjadi pada pohon itu. Lama ia menantikan kuncup – kuncup kembang bermekaran dibalik dedaun hijau nan rindang. Hampir 2 musim ia lalui hanya untuk menantikan kembang ara itu muncul dan mekar. Namun musim demi musim telah berlalu,  merpati masih berharap dengan penantiannya.
Tatkala pada suatu ketika ditengah kegelapan subuh, semburat cahaya berkilatan diatas langit penuh dengan mendung menghitam. Kilat berlalu lalang menyambar dengan suara gemuruh dan mengelegar membelah keheningan. Seluruh penghuni bumi dibawah kilatan cahaya gelegar itu terhenyak menggigil ketakutan. Termasuk sebatang pohon ara yang terlihat kekar berdiri kokoh.
Pohon ara tahu betul tanda-tanda alam itu. Hujan disertai angin kencang memporak porandakan daunnya tak dirasakannya lagi. Dia tahu betul hidupnya akan berakhir pada subuh itu, Sebab ketika pohon ara yang tumbuh, hidup dan berdiri tegak tetapi tidak menghasilkan buah, tidak bisa memberikan kedamaian dan kesejahteraan disekitarnya berarti dia adalah pohon yang tak berguna. Dan pohon itu harus mati. Itulah kutukannya!. Ibarat pohon ilmu pengetahuan, pohon itu memiliki segudang ilmu tetapi tidak bermanfaat bagi yang lain. Dan pohon tersebut tidak berguna, terlihat hidup tapi jiwanya mati. Begitupun dengan pohon ara itu. Dikesunyian subuh sayup- sayup suara lirih terdengar dibalik kerindangan pohon ara,
“aku si pohon ara, aku tahu hari ini adalah masaku berdiri dibawah akarku, aku bukanlah pohon yang baik, karena aku tak pernah menghasilkan buah bahkan aku tak memiliki kuncup- kuncup kecil di ranting dan cabang ku, aku adalah pohon ara aku adalah pohon yang tak berguna aku akulah pohon yang dikutuk itu….”
Sepenggalan lengkingan suara gemuruh menyasar kilatan menyilaukan, suaranya memekakkan telingga bunyi dentuman mengelegar. Terdengar raungan dan suara dari sebatang pohon kayu diiringi suara terbelah dan terjungkal.
Keesokan paginya semua binatang penghuni hutan itu melihat dengan jelas. Pohon ara telah mati terbelah dan terjungkal, petir telah menyambarnya. Burung Merpati datang tergopoh-gopoh. Dia mendengar berita duka itu dari penghuni hutan. Tubuhnya gemetar, dadanya menyesak menyaksikan pohon itu tumbang.  Tetapi sang Merpati paham kenapa pohon itu harus mati terbelah disambar petir, tumbang kearah matahari terbenam. Merpati dan seluruh penghuni hutan itu melihat dengan jelas akar pohon itu penuh dengan tonjolan-tonjolan yang hanya berada di permukaan tanah, tidak memiliki akar yang kuat, tidak menghujam masuk kedalam tanah.  Pohon ara yang terlihat kekar dan gagah batangnya seperti menembus langit, ternyata adalah pohon yang buruk, mudah roboh, tidak memiliki pondasi dan idealisme yang kuat, selalu mengikuti  kemana arah angin bertiup. Pohon oportunis yang tak pernah bisa memberikan kesejahteraan dan kedamaian bagi siapapun.
Matahari terus meninggi berlahan menuju ufuk barat. Seluruh mahluk penghuni hutan itu kembali beraktifitas. Seakan tak terjadi apa-apa. Itulah alam yang penuh misteri ilmiah, syarat dengan pengetahuan dan pembelajaran.
Alam – ilmu- ilmiah
Semarang, 4 Mei 2009